Masya Allah Wanita Italia Masuk Islam karena Merasa Tenang saat Ditawan Kelompok Militan



Seorang pekerja bantuan asal Italia, Silvia Romano memutuskan masuk Islam setelah 18 bulan ditahan oleh kelompok militan. Perempuan yang sebelumnya korban penculikan dan disandera ini menjadi mualaf karena merasa tenang selama masa penahanan.

Melansir dari ANSA, Rabu (8/7/2020), Silvia Romano mengatakan sepenuh hati yakin memeluk Islam setelah dua bulan dibebaskan. Dalam Islam, ia merasa menemukan perubahan nasib dalam hidupnya dan ketenangan yang menyelimuti jiwanya.

Pada November 2018, Romano diculik oleh kelompok bersenjata di Kenya. Ia kemudian ditawan oleh kelompok Al-Shabaab Somalia sebelum akhirnya dibebaskan setelah 18 bulan kemudian.

Dalam wawancara dengan La Luce, Romano mengatakan sempat merasa putus asa dengan hidupnya. Namun, ia kemudian menemukan kekuatan iman yang memberi warna baru pada hidupnya. Keadaan seolah berubah dan berkembang baik seiring berjalannya waktu.

Romano dikritik oleh pendukung sayap kanan setelah mempublikasikan keislamannya itu. Seorang anggota parlemen oposisi Liga Nasionalis bahkan memanggilnya “Neo Teroris” di parlemen.

Seorang mantan anggota dewan liga di Veneto bahkan turut mengatakan bahwa wanita itu harus digantung, memicu pertengkaran dengan pernyataan “neo teroris” nya.

Di samping itu, jaksa penuntut telah membuka penyelidikan atas ujaran kebencian berbasis web terhadap wanita berusia 25 tahun ini. Mobil polisi didapati telah berpatroli di jalan tempat ia tinggal.

Kebencian di media sosial diarahkan terhadap perubahan Romano ke Islam, fakta yang tidak secara terang-terangan mengkritik Al-Shabaab. Dugaan atas kenaifannya dalam melakukan perjalanan ini berujung pada kasusnya yang diduga berakhir pada pendanaan aksi terorisme.

Menteri Luar Negeri di Maio membantah pernyataan juru bicara Al-Shabaab bahwa gerilyawan telah menerima uang tebusan sejumlah empat juta Euro untuk Romano.

Di Maio, mantan pemimpin anti-establishment 5-Star Movement (M5S) mengatakan bahwa hal-hal buruk yang dibicarakan tentang Silvia sudah melampaui batas. Romano menanggapi kritik yang disasari pada dirinya, dan mengatakan bahwa dirinya memilih untuk menerima Islam tanpa paksaan entitas manapun dan berniat dalam hatinya untuk terus beriman sebagai seorang Muslim.

Sumber: Islami212.com

17 Ciri-Ciri Orang Ini Yang Mati Husnul Khotimah, Semoga Kita Salah Satunya. .Amin

Ada beberapa khusnul khotimah yang dirinci oleh para ulama berdasar dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Diantaranya;


1. Seseorang yang mengucap kalimat ‘Laa ilaaha illallah‘, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam;
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلامِهِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illallooh’ maka dia akan masuk Surga.” (HR. Abu Dawud)
2. Meninggal dengan keringat di dahi, berdasar hadits Ibnu Buraidah bin Hashib sebagai berikut ;
عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّه
كَانَ بِخُرَاسَانَ فَعَادَ أَخًا لَهُ وَهُوَ مَرِيضٌ فَوَجَدَهُ بِالْمَوْتِ وَإِذَا هُوَ يَعْرَقُ جَبِينُهُ فَقَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَوْتُ الْمُؤْمِنِ بِعَرَقِ الْجَبِينِ
“Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya bahwa ia berada di Khurasan, ia menjenguk saudaranya yang sakit, ia menemuinya tengah sekarat dan dahinya berkeringat, ia berkata: Allaahu Akbar, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang mu`min meninggal dunia dengan (mengeluarkan) keringat didahinya.” (HR. Ahmad)
3. Mati pada malam Jum’at atau di siang hari Jum’at, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam;
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia di hari Jum’at atau pada malam Jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
4. Orang yang meninggal karena tho’un (penyakit wabah atau sampar). Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda;
الطَّاعُوْن ُشهَاَدَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
  “Mati karena penyakit sampar adalah syahid bagi setiap muslim.” (HR. Bukhari)
5. Orang yang meninggal karena sakit perut, atau penyakit yang berhubungan dengan perut seperti; maag, kanker, usus buntu, kolera, disentri, bat ginjal dan lain sebagainya.
وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيْدٌ
“Barangsiapa yang mati karena sakit perut maka dia adalah syahid.” (HR. Muslim)
6. Orang yang meninggal karena tenggelam, karena kejatuhan bangunan atau tebing. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda;
الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Orang yang mati syahid itu ada lima; orang yang meninggal karena penyakit tha’un, sakit perut, tenggelam, orang yang kejatuhan (bangunan  atau tebing) dan meninggal di jalan Allah.” (HR. Bukhari)
7. Orang yang meninggal dalam suatu urusan di jalan Allah (Sabilillah) .
Seperti seseorang yang meninggal dalam perjalanan dakwah atau meninggal sewaktu mengajar ilmu agama atau ketika melakukan amal kebajikan kepada sesama yang diniatkan ikhlas karena Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Bukhari diatas.
Fisabilillah adalah berjuang di jalan Allah juga dalam pengertian luas sesuai dengan yang ditetapkan oleh para ulama.
8. Seorang wanita yang meninggal karena melahirkan anaknya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda;
قَتْلُ الْمُسْلِمِ شَهَادَةٌ وَالطَّاعُونُ شَهَادَةٌ وَالْبَطْنُ وَالْغَرَقُ وَالْمَرْأَةُ يَقْتُلُهَا وَلَدُهَا جَمْعَاءَ
“Terbunuhnya seorang muslim terhitung syahid, kematian karena wabah thaun terhitung syahid, kematian karena sakit perut terhitung syahid, kematian karena tenggelam terhitung syahid dan seorang wanita yang mati karena melahirkan anaknya terhitung syahid.” (HR. Ahmad)
9. Seseorang yang terbunuh karena mempertahankan hartanya atau kehormatannya. Abu Hurairah RA meriwayatkan;
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ  ” أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِي قَالَ : فَلَا تُعْطِهِ مَالَكَ  قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِي  قَالَ : قَاتِلْهُ  قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِي قَالَ : فَأَنْتَ شَهِيدٌ  قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ  قَالَ : هُوَ فِي النَّارِ “
Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam dan bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau ada seseorang yang hendak mengambil hartaku?” Beliau bersabda, “Jangan engkau berikan hartamu!” Bagaimana kalau ia melawanku?” Beliau bersabda; “Lawanlah dia!”, “Bagaimana kalau dia membunuhku?” Beliau bersabda; “Engkau syahid”, “Bagaimana kalau aku yang membunuhnya?” Beliau bersabda; “Dia di neraka!.” (HR. Muslim)
مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ  وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ
“Barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya maka dia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena memeprtahankan agamanya maka dia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan nyawanya maka dia syahid dan barangsiapa yang terbunuh karena memeprtahankan keluarganya maka dia syahid.” (HR. Tirmidzi)
10. Orang yang meninggal dalam keadaan mengerjakan kebaikan atau amal sholeh.
Seperti seseorang yang meninggal dalam keadaan sholat, melaksanakan ibadah haji, bersilaturahmi dan sebagainya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;
مَنْ قَالَ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ابتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ، خُتِمَ لَهُ بهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بهَا ، دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ تَصَدَّقَ بصَدَقَةٍ ابتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بهَا ، دَخَلَ الْجَنَّةَ “
“Barangsiapa yang meninggal ketika mengucap ‘Laa ilaaha illallah’ ikhlas karena maka dia masuk


Surga, barangsiapa yang berpuasa pada suatu hari kemudian meninggal maka dia masuk Surga, dan barangsiapa yang bersedekah ikhlas karena Allah kemudian dia meninggal maka dia masuk Surga.” (HR. Ahmad).

Sumber: Islami212.com

Alhamdulillah, Satu Keluarga Di Rembang Ini Masuk Islam Melalui NU



Alhamdulillah, Satu Keluarga di Rembang ini Masuk Islam Melalui NU

Rembang, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Rembang KH Khatib Mabrur membimbing lima warga Desa Gegunung Wetan Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah masuk Islam di Pondok Pesantren Ta’lim Qur’an Al Abidin Rembang, Selasa (7/7) malam.

Kelima orang yang merupakan satu keluarga itu bernama Hariyati, Rafael Kristianto, Kayari, Agus Suswanto, dan Sri Giyanti.

“Alhamdulillah,” ucap Kiai Khatib usai menuntun lima orang tersebut membaca dua kalimat syahadat secara bergantian.

Rais Syuriyah PCNU Rembang KH Ahmad Chazim Mabrur yang menjadi saksi pengucapan ikrar dua syahadat dari lima orang tersebut mengungkapkan rasa syukur dan mengajak seluruh yang hadir ikut mendoakan mereka agar mendapat bimbingan dari Allah SWT.

“Mari kita doakan bersama-sama semoga saudara kita ini mendapat bimbingan langsung dari Allah SWT.

Selain itu, semoga mendapat kemudahan untuk selalu meningkatkan taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah),” kata Kiai Chazim.

Menurut Kiai Chazim, ke lima orang ini mendapat keberuntungan terbesar karena mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Hal ini ditunjukkan dengan jalan masuk Islam tanpa paksaan melalui kesadaran masing-masing.

“Tanpa hidayah, dipaksapun tidak akan bisa.

Coba kita melihat kisah Abu Jahal dan Abu Lahab bahwa mereka contoh jelas yang merupakan kerabat dekat Rasulullah SAW.

Karena tidak ada hidayah, tidak bisa masuk Islam. Perlu kita ketahui bersama hidayah itu pemberian dari Allah SWT,” jelasnya.

Ia menambahkan, setelah acara ikrar dua kalimat syahadat, satu keluarga ini akan dibimbing oleh Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Rembang dalam menjalankan rutinitas kewajiban menjadi seorang Muslim.

“Shalat itu mudah jika belum bisa membaca doa-doanya cukup diam.

Kemudian sambil berjalannya waktu nanti sedikit-demi sedikit dimulai dari Bismillahhirrahmannirahim.

Insyaaallah jika nurut dengan perintah Allah SWT akan diberikan kejernihan hati dan ketentraman hati,” imbuhnya.

Selain KH Ahmad Chazim Mabrur, para kiai NU di Rembang lainnya juga ikut menyaksikan acara sakral tersebut di antaranya Wakil Ketua PCNU Rembang Abdul Rosyad, dan Ketua LKKNU Rembang Moch.

Chazim. Prosesi doa pun diimami oleh tiga orang kiai yakni Wakil Syuriyah PCNU Rembang KH Munib Muslih, A’wan PCNU Rembang KH Abdul Wahab Hasybi, dan Mustasyar PCNU Rembang KH Muhammad Ridwan Muslih.(*)

Suami/Istri Kehilangan Hasrat Berjima? Ternyata Inilah Penyebabnya



Manusia dewasa dianugerahi kebutuhan akan hubungan in*tim. Itu sebabnya Islam menganjurkan pernikahan.

Dengan pernikahan, hubungan ba*dan menjadi berpahala dan memberikan begitu banyak berkah. Bukan hanya untuk suami saja, tapi juga untuk istri.

Namun,  namanya juga manusia hidup, selalu ada hal yang terasa tak ideal dalam suatu waktu. Termasuk urusan tempat tidur ini. Ada satu ketika dimana kita kehilangan ga1rah untuk berji*ma’.

Mungkin kita sendiri tak menginginkannya, tapi hal-hal di bawah ini secara langsung dan tidak memengaruhinya.

1. Obat-obatan
Kandungan dalam obat-obatan tertentu bisa berdampak pada hasrat ji*ma’ Anda. Salah satunya adalah membuat hasrat ji*ma’ menurun atau sulit mencapai kepuasan.

Jika Anda atau pasangan mengonsumsi obat tertentu dan hasrat ji*ma’ menurun sebaiknya hentikan dulu konsumsinya untuk sementara waktu.

Atau lebih aman, mungkin sudah mulai berpikir untuk berhenti mengonsumsi obat kimia. Jikapun ya, itu menjadi alternatif terakhir buat kita.

2. Diabetes
Penelitian menunjukkan 35 persen hingga 75 persen pria yang menderita diabetes juga mengalami masalah ereksi. Hal itu karena kadar gula dalam darah bisa merusak pembuluh darah dan ini berdampak pada kehidupan s*ksual.

3. Depresi
Stres atau depresi yang Anda alami juga membuat hasrat ji*ma’ menurun. Pikiran Anda tidak fokus dan merasa tidak nyaman saat berhubungan.

Bahkan bisa jadi, hubungan in*tim malah membuat Anda makin depresi. Sebagai Muslim, obat stress paling ampuh dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Perbanyak tilawah dan shalat malam, misalnya.

5. Kehamilan
Bentuk tubuh, perubahan hormon dan rasa tidak nyaman pada wanita hamil memang bisa menurunkan hasratnya untuk hubungan ba*dan. Tapi ini bukan halangan untuk bermesraan dengan istri.

Ada banyak cara yang masing-masing pasangan suami istri tahu mana harus dilakukan dalam berbagai kondisi tertentu.

Sumber: islampos.com

Inilah Hukum Mertua Ikut Campur Dalam Rumah Tangga



Salah satu permasalahan yang kerap terjadi terhadap pasangan suami istri pada kehidupan setelah menikah adalah keterlibatan mertua dalam rumah tangga mereka.

Hal ini memang sulit dihindari. Sekalipun memutuskan ngontrak atau membeli rumah sendiri, tapi itu tak menjadi jaminan. Mertua tetap bisa mengawasi. Bahkan berusaha selalu terlibat dalam setiap masalah yang terjadi.

Nah, kira-kira bagaimana islam memandang hal tersebut? Sebenarnya bolehkah mertua ikut campur dalam rumah tangga ataukah tidak diperbolehkan? Berikut ulasannya.

Sebelum memutuskan boleh atau tidaknya, hendaknya kita mengkaji dulu tentang masalahnya. Mengapa mertua tersebut ikut campur? Apakah untuk kebaikan atau malah berunsur kebencian?

Terkadang keterlibatan mertua dalam rumah tangga bisa diartikan menjadi nasehat, bisapula sebagai rasa iri. Ini bergantung pada presepsi masing-masing.

Apabila mertua ikut campur dalam hal kebaikan, misalnya:

Menasehati menantunya tentang ilmu agama
Mengajari cara memasak atau mengurus anak
Menjelasakan tentang kewajiban suami terhadap istri dalam Islam tanpa menggurui
Menjelaskan peran wanita dalam Islam, fungsi ibu rumah tangga dalam Islam dan kewajiban wanita setelah menikah.
Sekedar memberikan saran atas masalah yang terjadi, tapi tidak memaksa
Serta menjadi tempat keluh kesah
Maka tindakan-tindakan tersebut diperbolehkan. Sebab pasangan yang baru menikah juga belum terlalu mengerti tentang kehidupan rumah tangga, jadi mereka butuh bimbingan untuk menghindari perceraian.

Sebaliknya, jika mertua ikut campur secara berlebihan. Misalnya saja setiap hari datang ker rumah anaknya, merasa berkuasa atas anaknya, merendahkan dan menganggap menantunya tidak becus, atau bahkan selalu terlibat dalam setiap masalah maka itu hukumnya tidak diperbolehkan.

Di dalam ajaran islam, pasangan yang telah menikah lebih dianjurkan untuk tinggal di rumah sendiri guna menghindari konflik dengan mertua. Tidak apa-apa walau hanya ngontrak rumah kecil, yang terpenting istri tidak tertekan.

Dengan ngontrak rumah maka pasangan bisa belajar hidup mandiri, berjuang dari awal secara bersama-sama dan menciptakan kehidupan yang islami. Tapi demikian anak tetap wajib berbakti pada orang tua.

Jadi walau telah menikah tidak boleh melupakan orang tua. kewajiban anak laki-laki terhadap ibunya setelah menikah dan kewajiban anak perempuan terhadap orang tua setelah menikah adalah tetap harus sering mengunjungi dan memperhatikan kedua orang tuanya ataupun mertua.

Batasan Mertua Ikut Campur Dalam Rumah Tangga
Beberapa pendapat mengatakan bahwa tidak mengapa mertua ikut campur dalam rumah tangga asalkan itu dalam hal kebaikan. Apabila mertua memang punya niat baik, pasti beliau tidak akan memihak. Entah itu anaknya atau menantu, mana yang benar pasti dibela. Mertua harus bersikap adil.

Begitupun dengan menantu, hendaknya menyayangi mertua sebagaimana kasih sayangnya terhadap orang tua. Menyenangkan hati mertua sama halnya dengan membahagiakan suami. Dan dalam islam, istri yang dapat membuat suami bahagia maka akan diberikan pahala berlipat ganda. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist shahih:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah wanita yang paling baik? Jawab beliau, ‘Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasai)

Cara Menyikapi Mertua yang Selalu Ikut Campur
Sebenanarnya perilaku mertua ikut campur dalam rumah tangga bukanlah hal baru. Ini sudah sering terjadi dan bisa dikatakan cukup wajar. Lalu bagaimana sikap kita sebagai menantu untuk menghadapinya? Berikut ini ulasannya!

1. Jangan Dibalas dengan Kejahatan
Apabila mertua melakukan hal-hal yang membuat hati kita jadi sakit, misalnya selalu mengeluh terhadap perbuatan kita, memerintahkan ini itu tiada henti, banyak menuntut dan sejenisnya. Maka jangan dibalas dengan kejahatan juga.

Islam memerintahkan agar kejahatan dibalas dengan kebaikan. Mintalah petunjuk kepada Allah ta’ala. Perbanyak berdoa dan Anda bisa mendiskusikan baik-baik dengan suami. Namun bila sudah tidak tahan, Anda boleh bercerita kepada orang tua.

2. Tinggal Terpisah
Tinggal di rumah terpisah adalah cara terbaik untuk menghindari konflik dengan mertua. Setidaknya jika Anda berumah tangga sendiri, kemungkinan mertua ikut campur lebih minim. Selain itu, Anda juga lebih bebas mengatur kehidupan Anda sendiri tanpa ada rasa sungkan.

Sekali lagi, tindakan ini bukan berarti memisahkan suami dari orang tuanya. Toh, Anda juga sudah berani meninggalkan rumah. Kalian bisa mencari kontrakan atau kos-kosan yang letaknya berdekatan dengan orang tua. Jadi bisa sering-sering berkunjung.

3. Berusaha Memahami Keinginan Mertua
Daripada terus mengeluh atas tindakan mertua, mengapa Anda tidak mencoba memahami keinginannya? Cobalah memposisikan diri Anda sebagai anaknya. Bayangkan beliau adalah orang tua Anda. Dengan begitu akan terjalin ikatan yang kuat dari hati ke hati.

Apabila beliau melakukan sedikit kesalahan, misal ucapannya menyakiti hati Anda maka maklumi saja. Cari tahu apa yang diinginkan beliau. Coba dekati secara perlahan, curi perhatiannya dan berusahalah menjadi pribadi yang ramah.

4. Berbicara Dengan Suami
Apabila Anda masih bingung apa yang diinginkan mertua atau mungkin Anda merasa tidak nyaman, maka cobalah berdiskusi dengan suami.

Ceritakan tentang apa yang terjadi, perasaan Anda, dan apa yang Anda mau. Cobalah membuat keputusan yang adil dan tidak mendzolimi salah satu pihak.

Sebagai suami, tentunya punya tanggung jawab yang besar atas kebahagiaan istri. Suami harus bisa melindungi istrinya sekaligus berbakti pada orang tua. Suami juga tidak boleh memihak. Mana yang benar itulah yang harus dibela.

5. Mengajak Mertua Sama-Sama Belajar Agama
Tak ada salahnya sesekali mengajak mertua untuk ikut kajian agama. Anda bisa berbicara dengan sopan dan santun. Bilang saja Anda ingin jalan-jalan bareng selagi ada waktu senggang.

Aktivitas ini bisa mendekatkan hubungan Anda dengan mertua. Selain itu, dengan belajar ilmu agama maka mertua juga akan lebih mengerti tentang bersikap sesuai syariat islam. InsyaAllah berkah sebab tujuan Anda juga baik.

6. Berbicara dengan Orang Tua
Apabila masalah sudah terlalu runyam, dan Anda tidak mampu menyelesaikannya sendiri. Sementara suami juga berpihak pada mertua. Maka tak ada jalan lain kecuali Anda meminta bantuan kepada orang tua.

Saat menjelaskan masalahnya kepada orang tua jangan sambil marah-marah, karena itu bisa menyulut emosi mereka. Ujung-ujungnya malah bertengkar. Jadi lebih baik ceritakan dengan baik-baik, gunakan bahasa yang sopan. Sebisa mungkin cobalah menyelesaikan masalah dengan cara yang damai.

Oiya, Anda juga perlu tahu bahwa menikah itu perjuangan dan pengorbanan. Tidak ada pernikahan yang cuma senang-senang aja. Pastilah ada masalah.

Namun bila kedua pasangan bisa tetap berkomitmen, memegang teguh agama dan bersikap saling percaya maka insyaAllah segala permasalahan bisa dilalui dengan baik.

Jangan takut menikah sebab menikah itu ibadah. Selain itu, setiap manusia memang sudah diciptakan berpasangan. Menikah bisa membuat hati lebih tenang dan menghindarkan dari perbuatan zina. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) dan Maha Mengetahui.” (QS. an-Nuur: 32).

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ …
“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik …” (Qs. an-Nahl: 72).

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq: Pernah Terlibat Dalam Masalah Rumah Tangga Anaknya
Adanya batasan keterlibatan mertua dalam rumah tangga anaknya, bukan berarti mereka tidak boleh ikut campur sama sekali. Kita bisa melihat dari kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang pernah terlibat dalam pertikaian anaknya, Siti Aisyah radiyaallahu anha dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Diceritakan bahwa suatu hari Aisyah radiyaallahu anha bertikai dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sebab tertentu. Nabi pun mengusulkan untuk memanggil Abu Bakar sebagai penengah atas konflik yang terjadi. Dan Aisyah menyetujuinya.

Saat Abu Bakar tiba, ia mengetahui bahwa Aisyah telah berbicara dengan nada keras kepada Rasulullah SAW. Hal itu membuat Abu Bakar murka dan hendak menampar muka Aisyah.

Hal itu membuat Aisyah merasa ketakutan, lalu bersembunyi di balik tubuh Nabi Muhammad SAW. Kemudian Nabi pun memaafkan Aisyah. Beliau malah tersenyum dan berbicara baik-baik dengan Abu Bakar agar memaklumi Aisyah.

Selang beberapa hari, Abu Bakar datang kembali ke rumah Aisyah. Beliau merasa khawatir atas pertikaian yang telah terjadi, namun tampaknya Aisyah dan Nabi telah berbaikan bahkan bercanda bersama. Hal itu lantas membuat Abu Bakar menjadi senang.

Sumber: dalamislam.com

Jangan Salahkan Istri Karena Rumah yang Selalu Tampak Berantakan



Memiliki anak-anak yang sehat dan aktif memang anugrah yang tak terkira. Namun, sebagai orangtua, kita juga akan mengerti konsekuensi berupa rumah yang selalu tampak berantakan.

Sayangnya, banyak orang tidak mengerti jika menjaga rumah agar selalu rapi itu memang tidak mudah. Akhirnya, istri seringkali jadi satu-satunya pihak yang dipojokkan atas kerapihan dan kebersihan rumah.

Clint Edwards pernah menjadi suami yang selalu menyalahkan istri jika atas rumah yang selalu tampak berantakan. Bahkan, ia pernah bertengkar dengan istri tentang hal itu.

Kini, ia justru meyakini bahwa istri yang menjadi ibu rumah tangga sama sekali tak bisa disalahkan atas rumah yang selalu tampak berantakan. Inilah pengakuan yang ditulisnya lewat blog:

Aku sedang membangun rak di garasi ketika seorang gadis tetangganya, -salah satu teman anak perempuanku yang berusia 4 tahun- mendekatiku dan berkata, “Aku baru lihat rumahmu tadi. Rumahmu cukup kotor. Mama Norah perlu lebih raijn membersihkannya.”

“Beberapa orang akan merasa komentar seperti itu kasar,” sahutku.

Gadis kecil menatapku dengan senyum jahil dan berkata, “yup!”

Hal yang benar-benar menyebalkan tentang yang dikatakan oleh anak umur 5 tahun itu adalah fakta bahwa mereka 100%  jujur. Dan kenyataannya, kami memang memiliki rumah yang selalu tampak berantakan.

Saat ini, aku bisa merinci sejuta alasan sebagai pembenaran atas berantakannya rumah kami. Misalnya, Pakaian dalam di mana-mana, keranjang pakaian bersih di ruang tengah rumah kami, dan sebagainya.

Selalu saja ada karet gelang, boneka, peralatan play dough,dan tumpukan piring kotor di atas meja.,

Anak-anak sering nongkrong di ruang tamu, atau di teras, makan di mana saja, dan sering mengeluarkan mainan tanpa pernah merapikannya kembali.

Kami juga baru saja punya bayi dan barangkali itu adalah alasan terbaik dan terbesar mengapa kami memiliki rumah yang selalu tampak berantakan

Namun, sebenarnya tak ada alasan apapun yang memang pantas dijadikan sebagai pembenaran atas betapa berantakannya rumah kami.

Selalu ada orang-orang yang rumahnya lebih berantakan dari rumah kami. Aku pernah bertemu dengan mereka.

Ketika aku masih muda dulu, aku akan pergi ke rumah berantakan tersebut. Kemudian aku akan mengatakan hal buruk seperti, “Kok rumahmu kotor sekali sih?”

Setelah aku sampai di rumahku, aku akan menceritakan tentang betapa berantakannya rumah mereka kepada ibuku. Ibuku akan menanggapinya dengan mengatakan hal seperti, “memang istrinya tak peduli tentang anak-anak maupun rumahnya ya?”

Dalam hal rumah berantakan, orang cenderung akan menyalahkan peran seorang ibu.

Meskipun kita sudah hidup di era kesetaraan dan kerja sama antar suami istri, tetap saja ayah rumah tangga dianggap sebagai kondisi yang tidak biasa (Aku pernah mengalaminya walau hanya dalam waktu singkat).

Tak peduli apapun dinamika yang terjadi di dalam rumah tangga kami, tetap saja orang-orang akan menyalahkan istriku atas rumah yang selalu tampak berantakan.

Aku bisa mengetahui hal ini karena dulunya, aku juga sering menyalahkan istriku atas rumah berantakan kami.

Tak lama setelah ia menjadi seorang ibu yang tinggal di rumah, aku mulai benar-benar menghakimi. Aku mulai melihat keadaan rumah dan berpikir, “Mengerjakan hal seperti itu saja tak becus. Dasar tak becus mengurus rumah!”

Aku tak mempertimbangkan fakta bahwa anak-anak memang tidak peduli pada kebersihan. Mereka akan menjatuhkan remah-remah makanan ke lantai pula. Ketika aku menjadi ayah rumah tangga, aku sering menyapu sampai ke bawah meja dan tak ada 10 menit, rumah kami kotor lagi.

Saat mereka mau tidur, aku akan menyingkirkan mainan anak-anak. Namun, bahkan sebelum aku bangun tidur di pagi hari, mainan anak-anak sudah berserakan lagi.

Aku tak ingin membicarakan anak-anak kalian. Anak-anakku sendiri adalah para pengacau rumah yang luar biasa.

Setelah bertengkar dengan istri tentang betapa berantakannya rumah kami, aku mulai menyadari kesalahanku..

Yang akhirnya aku pahami adalah, mengerjakan pekerjaan rumah adalah sebuah pekerjaan penuh waktu yang tak ada habisnya. Istriku adalah pembantu rumah tangga, manager, guru, perawat, sopir, penghibur, koki  mahasiswa paruh waktu, relawan sekolah, penjaga lingkungan, dan banyak lagi.

Beberapa tahun yang lalu, aku dan Mel, istriku, bertengkar soal betapa berantakannya rumah kami. Bagiku rumah berantakan itu sangat memalukan, terutama kalau dilihat orang lain. Aku menyudutkannya dengan pertanyaan apa yang sudah ia lakukan sepanjang hari, “Membersihkan rumah itu bukanlah pekerjaan yang susah-susah amat kok,” kataku.

Kami jadi bertengkat hebat. Mel berkata padaku bahwa aku perlu menyadari apa yang harus ia hadapi setiap harinya. Kemudian dia mengatakan sesuatu yang menghantam jiwaku.

Dia berkata, “Kadang-kadang aku harus memilih antara membersihkan rumah atau mengajak Tristan dan Norah ke taman. Kadang pilihannya adalah menghabiskan waktu bersenang-senang dengan mereka, mengajar mereka membaca atau menulis.”

“Kadang-kadang aku harus memilih, harus mencuci piring atau mengajar anak kita caranya naik sepeda atau mengajarkan putri kita caranya berjalan. Terus terang, aku lebih suka melakukan hal-hal itu. Aku juga lebih suka menjadi ibu yang tak mengabaikan anak-anak daripada sibuk mengkhawatirkan apa yang tetangga bilang tentang betapa berantakannya rumah kita.”

Sejak itu, aku berhenti untuk memandangi piring kotor di rumah kami sambil berpikir bahwa Mel hanya malas-malasan sepanjang hari. Sebaliknya, aku mulai mencuci piring.

Aku berhenti berasumsi bahwa piring kotor yang menumpuk adalah bukti bahwa Mel hanya bermalas-malasan sepanjang hari. Sebaliknya, aku mulai ikut mencuci piring. Aku mulai menyadari bahwa berantakannya rumah kami bukanlah kekacauannya. Tapi kekacauan kami. Aku mulai memahami segalanya.

Aku berhenti mengkhawatirkan tentang keadaan rumah, dan mulai memperhatikan perkembangan anak-anak kami. Aku mulai memperhatikan betapa bahagianya mereka, dan ikatan mereka dengan ibunya. Rumah kami memang berantakan, Namun kami benar-benar bahagia. Anak-anak pun tumbuh dengan ceria.

Aku tidak mengatakan bahwa jika Anda memiliki rumah yang bersih, maka Anda pasti melakukan sesuatu yang salah. Tapi apa yang ingin aku katakan adalah aku tidak akan menghakimi istriku lagi karena mengajarkan anak-anakku untuk berenang, daripada membersihkan ruang tamu.

Aku tidak akan menghakimi dia karena mengajarkan anakku latihan menggunakan toilet daripada membersihkan meja. Aku pikir Anda juga tak boleh meremehkan ibu rumah tangga yang punya rumah berantakan, karena kemungkinan mereka juga telah menggunakan waktu yang ada dengan bijaksana.

Sumber: theasianparent.com

Tidak Perlu Mahal, 4 Hal Sederhana Ini Ampuh Bikin Istri Makin Cinta dan Lengket Sama Suami,, Ini Penjelasannnya



Setiap pasangan ketika memutuskan untuk menikah tentu harapannya adalah kelak rumah tangga mereka bahagia selalu atau sakinah mawadah warohmah. Nah perlu diketahui bahwa rumah tangga bahagia itu sederhana kok, 4 hal ini diawali dari suami.

Awali dari yang ringan ringan saja, tak perlu mahal mahal dan mewah kok. Pada dasarnya wanita adalah mahkluk yang lemah lembut, sedangkan pria adalah mahkluk yang berpikir rasional.

Kaum pria sering mengatakan bahwa wanita sulit ditebak, dan sebaliknya wanita selalu mengatakan bahwa pria kurang peka dalam memahami perasaan. Hal tersebut sering kali memicu pertengkaran, tak terkecuali dalam rumah tangga.

Nah, jika Anda sangat mencintai istri dan tak ingin terus bertengkar dengannya, Anda harus belajar dapat memahaminya.

Tips sederhana ini mungkin mampu membantu Anda sebagaimana dikutip keluarga.com. Dan siapa tahu, nantinya sang istri akan semakin cinta kepada Anda

1. Selalu Mengucapkan Tolong dan Terima Kasih
Dalam membangun rumah tangga, Anda berdua telah menjadi satu tim. Dan sebagai satu tim, Anda tentu tak layak untuk berlaku sesuka hati kepada pasangan.

Jika Anda ingin membuat istri merasakan betapa Anda mencintainya, saat Anda menginginkan sesuatu, minta tolonglah dengan penuh kasih dan lembut. Setelah itu ucapkanlah, “Terima kasih, Sayang.”

2. Tanyakan Selalu Pendapatnya
Banyak suami akan langsung mengambil keputusan sendiri yang sesuai dengan logikanya. Padahal ketika Anda telah menikah, Anda tidak boleh melupakan bahwa Anda memiliki pasangan hidup yang juga perlu didengar pendapatnya.

Ketika Anda menginginkan sesuatu, tanyakan terlebih dahulu kepada pasangan, “Bagaimana menurutmu, Sayang?.”

Ketika Anda terbiasa menanyakan pendapat istri, istri Anda akan merasa terlibat dalam hidup Anda. Cara ini juga dapat membuatnya menjadi semakin mencintai Anda.

3. Lebih Romantis
Hal yang paling umum yang mampu membuat setiap wanita luluh dan semakin mencintai pria adalah memiliki pria yang romantis.

Banyak pria setelah menikah tidak lagi romantis seperti saat masih pacaran dahulu karena berpikir bahwa misinya untuk mendapatkan hati istri telah usai, sehingga tidak perlu lagi ada rayuan atau hal-hal romantis lainnya.

Nah, jika Anda salah satunya, Anda perlu kembali romantis sesekali. Berikan istri kejutan-kejutan kecil, misalnya membawakan seikat bunga mawar atau mengajaknya pergi makan malam romantis di sebuah restoran.

Kejutan-kejutan seperti ini juga mampu menjaga hubungan pernikahan Anda agar senantiasa harmonis.

4. Berikan Kasih Sayang
Dengan memberikan nafkah atau memenuhi kebutuhan istri, bukan berarti Anda telah berhasil memberikan kasih sayang terhadap istri. Memenuhi kewajiban sebagai seorang suami adalah tanggung jawab yang harus Anda penuhi, namun memberikan kasih sayang juga tak kalah pentingnya.

Memberikan kasih sayang dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, misalnya dengan mengungkapkan kalimat sayang, memperlakukan istri dengan penuh cinta, selalu membantu istri mengurus rumah, memberinya perhatian kecil seperti memijat istri jika lelah bekerja di rumah, memeluknya dari belakang, dan lainnya.

Anda juga perlu mendukungnya dalam segala hal, mendengarkan keluh kesahnya dan menjadi sahabat terbaik bagi hidupnya. Hal-hal sederhana seperti inilah yang selalu dapat menambah rasa cinta dan sayang antara Anda dan istri.

Semoga bermanfaat.

Sumber: mengutip.com

The Power of Performance Management with BambooHR

  Introduction: Performance management plays a crucial role in organizations, ensuring that employees are engaged, motivated, and aligned wi...